Pidato Abe pada Peringatan 70 Tahun Perang Bukan Sekedar Kata-Kata


Penyesalan yang dalam dan permintaan maaf yang tulus, mungkin hanya sekedar kata-kata, lain halnya seperti pidato peringatan 70 tahun perang yang disampaikan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, pada Jumat (14/8) malam waktu setempat. Abe menggunakan kata-kata tersebut dalam pidatonya dapat mendikte hubungan dengan negara tetangga di Asia lainnya. Abe menyampaikan sambutannya dalam ritual yang melihat pemimpin Jepang sebelumnya, dimana secara eksplisit meminta maaf atas militrerisme yang terjadi di Tokyo pada abad 20.

Melainkan mengikuti tradisi-tradisi sebelumnya, pidato Abe dikritik oleh beberapa orang telah menganggap remeh catatan perang Jepang dan berusaha untuk memperluas peran militer, jauh melenceng dari pernyataannya untuk menandai 70 tahun berakhirnya perang dunia ke-II. Dan apa yang dikatakannya mungkin membantu menenangkan hubungan dengan Cina dan Korea, yang menjadi korban kebrutalan Jepang di Asia, atau mengirim hubungan tersebut jatuh ke level yang lebih rendah.

Menurut pengamat sekaligus pemerhati politik internasional dari universitas di Prefektur Niigata, Yashinobu Yamamoto, “Prospek untuk hubungan Jepang dengan China dan Korea Selatan masih belum jelas, sebagian karena pandangan Abe terhadap sejarah”. Abe telah membuat perdebatan tentang definisi “menyerang” dan memprovokasi kemarahan dengan menyepelekan sistem perbudakan seksual di rumah bordil militer Tokyo.

Kunjungannya di tahun 2013 ke kuil Yasukuni, yang kala itu dilihat banyak orang sebagai simbol kuat militeristik di masa lalu, membawa hubungan dengan Beijing dan Seoul ke titik terendah selama beberapa dekade, mendapat teguran dari sekutu terdekat Washington dan memperparah ketegangan territorial. Kunjungan tersebut membatalakan perjanjian pertemuannya dengan Presiden Cina Xi Jin Ping dan Presiden Korea Selatan.

Pada pertemuan setelah itu, pemimpin Cina mengatakan pada Abe bahwa ia berharap "Jepang akan mengirim pesan positif dengan sungguh-sungguh menanggapi kekhawatiran di negara-negara Asia dan menghadapi sejarah secara tepat".













foto: japan today

(ADP)