Perburuan Lumba-Lumba dan Paus ‘Kontroversial’ Kembali Dimulai di Taiji Jepang


Kota Taiji yang terletak di Prefektur Wakayama, telah memulai perburuan lumba-lumba ‘kontroversial’ hari kamis (3/9) setelah kondisi cuaca yang buruk sempat menunda kegiatan tersebut.selain itu menurut nelayan lokal, perburuan ikan paus yang diadakan dalam waktu yang berbeda akan dimulai pada akhir pekan. Kapal-kapal pemburu kembali ke dermaga Taiji yang menjadi sorotan dunia setelah film dokumenter pemenang Oscar tahun 2009 berjudul “The Cove”, mengangkat tentang kegiatan perburuan lumba-lumba di kota tersebut.

12 kapal berangkat untuk perburuan, namun mereka kembali dengan tangan hampa. Para nelayan mengatakan para media, mereka akan kembali mencoba pada keesokan harinya jika cuacanya memungkinkan. Musim perburuan enam bulan akan segera dimulai para selasa (8/9), dalam perburuan tahunan ini para nelayan menjebak lumba-lumba hingga terpojok di teluk lalu membunuh mereka dan membuat warna air di teluk tersebut menjadi merah. Pemandangan seperti diatas terdapat dalam film “The Cove”, menarik perhatian yang tidak diinginkan oleh masayarakat dipesisir Jepang tersebut.

Aktivis lingkungan mengunjungi kota setiap tahun untuk menyaksikan kegiatan mengerikan tersebut dan pihak berwenang juga ikut hadir untuk mencegah bentrokan antara penduduk setempat dan aktivis lingkungan. Beberapa lumba-lumba yang ditangkap nantinya akan dijual ke akuarium-akuarium, para pendukung kegiatan perburuan tersebut mengatakan kegiatan ini adalah tradisi dan hewan yang mereka buru bukanlah hewan yang terancam punah, hal ini juga telah diketahui oleh Pemerintah Jepang.


Selain itu, Para pejabat perikanan Jepang telah mengumumkan mereka akan memulai perburuan atau penangkapan ikan paus di pesiir tersebut, dengan rencana menangkap 51 paus minke selama dua bulan ke depan, bebrapa orang mengatakan ini adalah bagian dari penelitian, tetapi rencana kegiatan tersebut telah mengundang perhatian sampai ke luar negeri.

Empat kapal akan beroperasi dalam radius 50 kilometer dari Kushiro di pulau Hokkaido utara Jepang, kata badan perikanan. Pemerintah pusat berpendapat bahwa program ini diperbolehkan berdasarkan Konvensi Internasional untuk Peraturan Penangkapan Ikan Paus, dan ditujukan untuk memahami perilaku paus dengan lebih baik. Namun, program penangkapan ikan paus dan perburuan liar di daerah pesisir lainnya membuat marah para aktivis konservasi dari barat dan negara-negara sahabat termasuk Amerika.






foto: theinertia, cdn

(ADP)