​Baby Stroller Dilarang di Transportasi Umum Jepang?


Sebuah panel penasehat Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang melakukan pertemuan pekan ini untuk membahas dan menyusun seperangkat aturan akan penggunaan baby stroller atau kereta bayi di transportasi umum seperti bus dan kereta. Panel ini juga mencakup perwakilan dari operator bus dan kereta api, serta organisasi lobi untuk anak.

Pada pertemuan pertama yang berlangsung pada hari senin (16/11), JR East sebagai salah satu operator kereta api di Jepang telah mengatakan bahwa mereka telah menyediakan ruang lebih untuk kereta bayi di setiap gerbong kereta model baru mereka. Namun, yang menjadi isu lebih besar dalam panel tersebut adalah perilaku ibu yang menggunakan baby stroller jumlahnya semakin banyak. Sebagai contoh, beberapa penumpang mengeluh tentang tidak dapat untuk naik bus atau kereta ketika ada banyak kereta bayi di dalamnya. Selain itu, pada beberapa kasus kereta bayi tetap terbuka meskipun tidak ada anak diatasnya dan menempati kursi prioritas khusus orang lanjut usia dan penyandang disabilitas. Saat ini aturan tentang kereta bayi bervariasi antara operator dan berbagai sistem transportasi publik di Jepang.

Kementerian transportasi ingin panel untuk merumuskan seperangkat aturan yang akan membuat transportasi umum menarik bagi orang tua dengan anak-anak kecil, dan meminimalkan gangguan bagi penumpang lainnya. Beberapa operator saat ini meminta agar orang tua pengguna stroller menggunakan kunci roda atau sabuk pengaman untuk mengamankan kereta dan mencegah mereka dari bergerak dan mengganggu penumpang lain. Sedangkan beberapa operator lainnya meminta kereta dilipat pada saat keadaan penuh. Kementerian telah meminta semua kereta dan bus untuk menggunakan simbol-simbol yang akan menunjukkan ruang prioritas untuk kereta bayi.


Masalah ini kerap kembali bertahun-tahun. Dua tahun lalu, JR East Jepang dan konsorsium perusahaan kereta api di daerah Kanto dan Kansai meluncurkan kampanye bersama menarik ibu-ibu yang dapat membawa kereta bayi mereka di atastransportasi umum. Dorongan utama dari kampanye ini adalah untuk mencegah "kake-komi" (naik-turun secara terburu-buru), tetapi pesan juga meminta bahwa kereta bayi dilipat, terutama ketika kereta sedang dalam kondisi penuh sesak.

Kampanye tersebut mendapat respon beragam dari masyarakat. Beberapa wanita mengatakan bahwa itu bukan hanya soal sopan santun diatas kereta. Jika beberapa kereta hanya memeiliki gerbong khusus perempuan, maka mereka harus menyediakan gerbong untuk orang tua dengan kereta juga.

Beberapa kecelakaan berpotensi serius akibat stroller bayi sebelumnya pernah terjadi. Pada bulan Februari 2006, roda depan kereta bayi terjepit di saat penutupan pintu kereta penumpang JR, dimana stroller terseret sampai 20 meter sampai akhirnya kereta bisa dihentikan. Pada tahun 2008, sebuah kecelakaan yang lebih serius terjadi di Jalur Nankai di Sakai City, Prefektur Osaka, di mana pintu otomatis menjepit handle stroller dan mengakibatkan seorang ibu terseret oleh kereta yang bergerak, dia diseret 140 meter sebelum kereta berhenti.

Bagaimana menurut anda tentang penggunaan stroller di transportasi publik? Dengan hadirnya bus transjakarta atau mrt yang akan datang, isu serupa juga dapat terjadi di Indonesia. Setuju atau tidak bagaimana pendapat anda?





foto: no-symbol, yokosukatdy, tokyourbanbaby

(ADP)