Remaja Jepang Akhirnya Dapatkan Hak Pilihnya, Apakah Mereka akan Menggunakannya?


Setiap warga negara cukup umur berhak menentukan pilihan mereka dalam pemilihan umum yang dilakukan di suatu negara, hal ini yang mungkin akan dirasakan para remaja Jepang dalam pemilihan umum pertama mereka dimana remaja berusia 18-19 tahun diperbolehkan untuk menggunakan hak pilihnya pada tahun ini. pelajar perempuan bernama Mena Hakamada (18) mengetahui pentingnya hak pilih yang kali ini sudah bisa digunakannya dalam pemilihan umum di negara tersebut. namun ia tidak dapat hadir dalam pemungutan suara yang dilakukan pada hari Minggu (10/7) kemarin, ketika ia harus ikut dalam field trip dan tidak memiliki waktu untuk memberikan hak pilih untuk pemungutan suara di daerahnya Shizuoka, dekan gunung Fuji.

Ketika Jepang mengadakan pemilihan untuk anggota pemerintahan minggu kemarin, antusiasme para remaja yang mendapatkan hak pilih mereka untuk pertama kalinya tersebut nampaknya belum terlalu terlihat. Meski berbagai upaya untuk memikat para pemilih muda untuk jajak pendapat, kurang dari 20 persen pemilih yang berusia 18-19 tahun yang berminat untuk itu, dibandingkan dengan 30 persen dari keseluruhan populasi pemilih muda di negara tersebut. dengan lebih dari seperempat populasi negara adalah orang dengan usia diatas 65 tahun, para remaja hanya memiliki 2% dari total keseluruhan suara dalam pemilihan umum ini.

"Tanpa partisipasi anak-anak muda", kata Kazuhisa Kawakami, seorang profesor ilmu politik di Universitas Internasional Kesehatan dan Kesejahteraan di Narita, "apa yang disebut dengan demokrasi perak akan berjalan sendiri." Di Jepang, kampanye tahun ini tidak sedikit untuk mencerminkan kekhawatiran dari para pemilih muda. Partai Demokrat Liberal Perdana Menteri Shinzo Abe memfokuskan pergerakan pada platform tujuan ekonomi, keamanan militer, peningkatan investasi lokal yang luas dan dukungan untuk menciptakan aksesebih baik untuk penitipan dan perawatan rumah.

Yang perlu dikhawatirkan dari fenomena tersebut adalah ketika mereka hanya memberi hak suara tanpa menciptakan kebijakan apapun untuk orang-orang muda atau mempertimbangkan apa yang anak-anak muda inginkan. Aki Okuda, pemimpin Tindakan Darurat Mahasiswa untuk Demokrasi Liberal. Kelompok, yang menentang banyak kebijakan Partai Demokrat Liberal, telah anak-anak muda untuk berpartisipasi dalam pemilu. Initinya, jangan sia-siakan hak suara yang telah anda dapatkan.

Dalam survei, mayoritas orang 18-19 tahun mengatakan mereka tidak melihat kebutuhan untuk revisi konstitusi, dan Partai Demokrat Liberal terus menyebutkan ambisinya dari kampanye untuk merayu pemilih muda. Profesor Kawakami mengatakan salah satu alasan anak-anak muda mungkin cenderung tidak akan memilih adalah bahwa pemerintah secara ketat mengatur bagaimana politik yang diajarkan di sekolah-sekolah. Pekan lalu, Partai Demokrat Liberal memposting formulir di website yang mengundang siswa, orang tua dan pendidik untuk melaporkan insiden di mana mereka percaya seorang guru telah melanggar "netralitas politik."Bahkan para remaja yang direncanakan untuk mencoblos tampak tidak yakin tentang bagaimana mereka akan memilih.





foto: nytimes

(ADP)