Stress Dapat Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2 pada Wanita


115
3 shares, 115 points

Hingga saat ini penelitian tidak berhenti dilakukan oleh para ahli di dunia medis untuk mengetahui semua hal yang terkait dengan salah satu penyakit paling mematikan yang tak mendapat banyak perhatian orang, diabetes. Para dokter kini tengah menganalisa lebih jauh faktor psikologis dan memperingatkan bahwa stres dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 pada wanita.

Faktor risiko untuk diabetes yang umum seperti obesitas, tekanan darah tinggi dan gaya hidup dengan sedikit pergerakan mungkin bukan satu-satunya prediktor diabetes tipe 2. Penelitian baru telah menunjukkan peran yang dapat dimainkan oleh stres dalam perkembangan kondisi gula darah pada wanita.

Hasil penelitian, yang baru-baru ini diumumkan tepatnya pada 10 November lalu di konferensi Scientific Sessions American Heart Association, menemukan bahwa memuncaknya stres dari peristiwa traumatik, serta situasi jangka panjang di rumah atau tempat bekerja, dikaitkan dengan hampir dua kali lipat risiko yang lebih tinggi dari kasus diabetes tipe 2 baru di kalangan wanita yang lebih tua. Stresor psikososial sebagai faktor risiko diabetes harus dianggap serius seperti faktor risiko diabetes lainnya.

Diabetes adalah masalah kesehatan masyarakat utama, yang mempengaruhi sekitar 30,3 juta orang Amerika pada 2015, menurut data terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Di antara orang-orang itu, 12 juta dari angka tersebut adalah orang-orang dengan usia 65 atau lebih tua. Karena wanita yang lebih tua semakin mewakili proporsi yang lebih tinggi dari populasi kita, pada gilirannya para dokter perlu lebih memahami faktor risiko diabetes pada kelompok tersebut.

Diabetes adalah penyakit kronis di mana tubuh tidak dapat mengatur gula darah dengan benar. Terlalu banyak glukosa dalam darah dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, stroke dan penyakit ginjal. Meskipun riwayat keluarga dan usia dapat memainkan peran, faktor-faktor seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, obesitas dan aktivitas fisik membuat orang lebih rentan terhadap diabetes tipe 2.

Namun, para peneliti mulai melihat lebih dari sekadar faktor risiko fisiologis. Mereka sudah mencoba untuk memahami hubungan antara stres, kesehatan mental dan risiko diabetes untuk sementara waktu. Bukti yang muncul menunjukkan bahwa stres psikososial dan bagaimana orang mengatasi stres dapat berdampak pada kesehatan kardiometabolik.

Penelitian sebelumnya tentang stres dan diabetes telah berfokus pada stresor individu, seperti pekerjaan atau gejala depresi atau kecemasan. Yang lain hanya melihat snapshot tepat waktu. Jadi, Butler dan rekan-rekannya berangkat untuk memahami hubungan bersama beberapa stresor dengan risiko diabetes di kalangan wanita dari waktu ke waktu.

Peneliti memasukkan data pada 22.706 ahli kesehatan wanita yang berpartisipasi dalam Women’s Health Study yang tidak memiliki penyakit jantung dan yang rata-rata berusia 72 tahun. Mereka mengumpulkan informasi tentang stres akut dan kronis dan kemudian mengikuti wanita selama rata-rata tiga tahun. Stres akut termasuk peristiwa kehidupan yang negatif dan traumatis, sedangkan stres kronis terkait dengan pekerjaan, keluarga, hubungan, keuangan, lingkungan dan diskriminasi. Dari sana ditemukan bahwa wanita dengan tingkat stres akut dan kronis tertinggi memiliki hampir dua kali lipat risiko diabetes.

Langkah selanjutnya adalah mengkonfirmasi temuan dan mengidentifikasi strategi yang ditargetkan pada stres psikososial yang dapat menurunkan risiko diabetes pada wanita yang lebih tua. Dari perspektif kesehatan masyarakat, penyedia layanan kesehatan harus menanyakan tentang stres psikososial sebagai bagian dari penilaian risiko diabetes.

Untuk saat ini, penelitian baru menyoroti pentingnya mempertimbangkan peran faktor risiko non-tradisional seperti stres dalam perkembangan diabetes. Para ahli setuju bahwa intervensi gaya hidup bekerja untuk pencegahan diabetes, tetapi itu bisa menjadi tantangan jika orang mengalami stresor kumulatif, seperti kehilangan pekerjaan atau merawat anggota keluarga, yang menghalangi mereka melakukan perilaku yang sehat seperti berolahraga, makan dengan benar atau berhenti merokok. Sangat penting untuk menilai dan memahami riwayat sosial pasien. Mereka mungkin memerlukan rujukan ke konselor atau pekerja sosial untuk menyelesaikan permasalahan yang memberikan stres.

 

 

 

 

 

(ADP)

 

 


What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format