Hikikomori Sebenarnya Apa?


85
85 points

Mengurung diri di dalam kamar menjadi hal yang biasa ketika seorang anak marah kepada orang tua. Namun, bagaimana kalau mereka mengurung diri di dalam kamar selama berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun? Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah hikikomori di negara Jepang. Para hikikomori tersebut memilih untuk menarik diri dari pergaulan sosial dan biasa menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di dalam kamar.

Hikikomori menjadi fenomena yang sangat diwaspadai oleh masyarakat Jepang. Menurut survei yang dilakukan oleh Japanese Cabinet Office pada 2010, terdapat kurang lebih 700 ribu masyarakat Jepang memilih untuk menjadi hikikomori. Dulu, para hikikomori tersebut rata-rata berusia 21 tahun. Saat ini, kondisinya meningkat, menjadi rata-rata berumur 32 tahun.

Apa yang Menjadi Penyebab Hikikomori?

Hikikomori adalah salah satu jenis gangguan mental. Mereka yang menderita gangguan ini memutuskan untuk menarik diri dari pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, mereka merasa takut keluar dari kamar atau bertemu dengan orang lain. Selanjutnya, mereka kemudian memilih untuk tidur di sepanjang hari dan menonton TV di dalam kamar ketika malam hari.

Seorang yang menderita gangguan hikikomori bukan berarti selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar. Terkadang, kamu juga bisa mendapati seorang hikikomori yang sesekali keluar kamar ataupun keluar rumah. Hal itu mereka lakukan ketika ingin mencari makan. Meski, pada banyak kasus, para hikikomori lebih memilih untuk belanja online dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Gangguan mental hikikomori biasanya muncul pada anak muda yang berasal dari segmen ekonomi menengah. Kasus ini hampir selalu muncul pada laki-laki. Fakta yang cukup menarik, kasus ini lebih sering muncul pada anak muda yang memiliki orang tua dengan latar belakang pendidikan lulusan perguruan tinggi. Durasi pengurungan diri yang dilakukan seorang hikikomori cukup beragam, mulai dari beberapa bulan hingga puluhan tahun.

Lalu, apa yang menjadi penyebab munculnya gangguan hikikomori tersebut? Gangguan mental ini biasanya muncul ketika seseorang mulai menyalahkan dirinya karena tidak mampu memenuhi target yang diinginkan oleh orang di sekitarnya—terutama orang tua. Karena rasa bersalah tersebut, mereka memilih untuk berhenti sekolah atau enggan mencari kerja.

Pilihan menjadi hikikomori itu juga bisa muncul ketika seseorang menjadi korban bullying atau tekanan sosial. Keputusan untuk menarik diri itu bisa saja terjadi secara tiba-tiba atau perlahan. Dibandingkan dengan negara lain, jumlah hikikomori di Jepang memang jauh lebih tinggi. Ada 2 faktor utama yang menyebabkan hikikomori jadi fenomena yang begitu masif di Jepang, yakni:

1. Sekentei

Hikikomori di Jepang terjadi karena istilah yang disebut “sekentei”. Istilah ini adalah upaya untuk menjaga reputasi diri sendiri serta adanya tekanan untuk menampilkan kesan positif di mata orang lain.

2. Amae

Faktor berikutnya adalah “amae” atau ketergantungan. Seorang hikikomori biasanya memiliki sifat ketergantungan tinggi kepada orang yang menyayanginya—biasanya adalah ibu. Mereka kerap memperlihatkan sifat layaknya anak kecil yang bakal bersikap agresif ketika tidak mendapatkan hal yang diinginkan.

Hikikomori memang menjadi fenomena yang sering muncul di Jepang. Namun, kasus serupa juga kini muncul di negara lain, termasuk di antaranya adalah Taiwan, Korea Selatan, serta Italia. Seperti halnya gangguan mental lain, hikikomori bisa disembuhkan. Hanya saja, untuk mendorong kesembuhan seorang hikikomori, biasanya diperlukan dukungan dari orang-orang di sekitar. Alih-alih memaksa hikikomori keluar dari kamar, cara yang tepat adalah menata ulang hubungan antara anak dengan orang tua.


What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
1
confused
fail fail
1
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
1
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *